
Foto Hiasan
Advertisement
Dalam hiruk-pikuk hidup yang sering membuat jiwa penat, ada satu momen yang selalu menjadi tempat pulang paling tenang bagi seorang hamba, saat sujud. Detik itu bukan sekadar gerakan dalam solat, tetapi pertemuan paling intim antara manusia dengan Penciptanya.
Ramai mungkin terlupa, ketika dahi menyentuh sejadah, kita sebenarnya sedang berada pada posisi paling hampir dengan Allah SWT. Di saat tubuh direndahkan serendah-rendahnya, lidah pula memuji setinggi-tingginya dengan lafaz, “Subhana rabbiyal a‘la” (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi).
Indahnya Islam, bisikan yang lahir daripada tempat paling rendah di muka bumi itu tetap didengari oleh Allah yang berada di atas segala ketinggian. Tiada perlu suara lantang, tiada perlu kata berbunga, cukup dengan hati yang ikhlas dan air mata yang jujur.
Para ulama sering mengingatkan, waktu sujud adalah saat emas untuk berdoa. Ketika ego diluruhkan dan jiwa mengaku lemah, di situlah doa menjadi paling hidup. Segala resah tentang rezeki, jodoh, keluarga, masa depan luahkanlah semuanya. Tiada satu pun yang dianggap remeh di sisi-Nya.

Foto Hiasan
Bayangkan betapa sayangnya Allah kepada hamba-Nya, dalam keadaan kita paling hina dan kecil, Dia tetap membuka pintu seluas-luasnya untuk mendengar. Tidak ada penolakan, tidak ada giliran menunggu. Hanya kita dan Dia.
Justeru, jangan sia-siakan detik sujud yang singkat itu. Panjangkan sedikit, bisikkan harapan, sebut nama insan tersayang, mohon keampunan atas dosa yang disembunyikan. Percayalah, doa yang lahir daripada hati yang tunduk tidak akan pulang dengan tangan kosong.
Kerana janji Allah itu pasti maka berdoalah, nescaya akan Dia kabulkan dengan cara yang paling indah, pada waktu yang paling tepat.